MTI CANDUANG

SEJARAH BERDIRINYA PONDOK

Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang, yang lebih dikenal dengan Tarbiyah Canduang atau MTI Canduang, didirikan oleh Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli. Beliau adalah sosok ulama pejuang yang hidup pada tiga masa, yaitu masa pra kemerdekaan, masa kemerdekaan, dan masa pasca kemerdekaan. Syekh Sulaiman Arrasuli merupakan anak pertama (sulung) dari 2 orang bersaudara. Saudara beliau bernama Lajumin Habib. Ayah beliau ulama besar Minangkabau di masa itu, yaitu Angku Mudo Muhammad Rasul dan ibu beliau bernama Siti Barabuliah. Beliau adalah tokoh ulama dan pejuang kelahiran 10 Desember 1871 M, bertepatan dengan 1297 H. Tempat kelahiran beliau di daerah Pakan Kamih, Canduang, lebih kurang 11 Km dari Bukittinggi arah ke Payakumbuh.

Syekh Sulaiman ar-Rasuliy di masa kecil telah memiliki karakter leadership (kepemimpinan) dan konstruktor (jiwa pembangun). Bersahabat, bermasyarakat dengan sesama masyarakat yang semasa dengannya. Tegas, sopan, dan memiliki moral yang tinggi dan luhur.

 

Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli diawali dengan belajar membaca al-Qur’an dengan Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi (Kakek Syekh ‘Arifin) pada tahun 1881 M/ 1307 H di Batu Hampar, Payakumbuh. Pada tahap berikut, pendidikan Ilmu Alat dalam menela’ah al-Qur’an, yaitu ilmu nahwu dan ilmu sharaf beliau pelajari dengan Syekh Abdushshamad al-Samiak (Tuanku Sami’) di Biaro tahun 1883-1884 M/ 1309-1310 H
Belajar ilmu fiqh dan pemahaman ilmu faraid dengan Tuanku Kolok (Kakek dari orang tua perempuan Prof. Dr. Mahmud Yunus) di Sungayang pada tahun 1885-1886 M/ 1310-1311 H. Pada tahun 1886 Tuanku Sami’ kembali dari Makkah dan Syekh Sulaiman Arrasuli kembali belajar dengan beliau. Pada tahun yang sama, merupakan awal perkenalan beliau dengan Yang Mulia Angku Haji Abbas Khadi, Landrat Ford de Cock yang pada tahun 1926 membantu proses pembangunan MTI Canduang.

Selama tujuh tahun, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli belajar di Halaban dengan Syeikh Abdullah Halaban pada tahun 1890-1896 M / 1315-1321 H, untuk mendalami berbagai disiplin ilmu, yaitu : Ilmu-ilmu tata Bahasa Arab (Ilmu Nahwu, Sharaf, Mantiq, Balaghah), Ushul Fiqh, Fiqh, Tafsir, Tashauf, dan Tauhid. Pada masa ini, beliau telah menjabat sebagai guru tuo (tutor) yang mewakili sang Syeikh pada saat-saat tertentu. Pada tahun 1896 M/ 1321 H akhir, beliau kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa beberapa orang murid-murid dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari dengan ulama-ulama besar yang telah menimba ilmu pengetahuan di kota suci Makkah. Tahun 1903-1907 M/ 1328-1332 H), beliau berangkat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

1 tahun sebelum keberangkatannya ke Makkah, ia telah dijemput jadi menantu, sehingga waktu keberangkatannya, meninggalkan istri dengan seorang anak perempuan, yaitu Ruqayyah. Perjalanan Hajinya dibimbing oleh H. Abdurrahman Padang Gantiang dengan melalui jalur laut di Penang. Pendidikannya di Makkah al-Mukarramah adalah mendalami ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya sewaktu di kampung halaman dengan para ulama yang disebutkan di atas.

1 tahun sebelum keberangkatannya ke Makkah, ia telah dijemput jadi menantu, sehingga waktu keberangkatannya, meninggalkan istri dengan seorang anak perempuan, yaitu Ruqayyah. Perjalanan Hajinya dibimbing oleh H. Abdurrahman Padang Gantiang dengan melalui jalur laut di Penang. Pendidikannya di Makkah al-Mukarramah adalah mendalami ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya sewaktu di kampung halaman dengan para ulama yang disebutkan di atas.

Setelah belajar selama 4 tahun di Makkah, akhirnya Syekh Sulaiman Arrasuli kembali ke kampung halamannya atas permintaan ibunya. Setelah sampai di kampung kalahiran beliau, beliau mulai mendirikan “Surau Baru” sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama pengembaraannya. Surau Baru, Pakan Kamih, didirikan pada tahun 1908 dengan menggunakan sistem halaqah sampai tahun 1927.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli sebagai Tokoh Sosial, Keagamaan, pendidikan, Kemasyarakatan dan tokoh adat Minangkabau, merekonstruksi dan menetapkan bunyi pepatah:

Syara’ mangato, adat mamakai; Minangkabau batubuah adat, bajiwa syara’; Pangulu-pangulu salaku juru bantu, dan alim ulama salaku kamudi; Adat basandi syara’, Syara’ basandi Kitabullah”.

Sebagai tokoh adat Minangkabau, beliau menulis beberapa buku yang berisikan tentang adat Minangkabau yang membahas tentang tatanan sosial kemasyarakatan Minangkabau, antara lain :

  1. Pedoman Hidup di Minangkabau
  2. Asal dan Pendirian Pangulu
  3. Pertalian Adat dan Syara’
  4. Pedoman Pangulu

Di bidang keagamaan, beliau mempunyai dinamika tentang ilmu akidah dengan mengonsep tatanan akidah yang benar bagi seluruh elemen masyarakat dengan menulis buku “al-Aqwalu al-Mardhiyah” perspektif “ahl al-sunnah wa al-jama’ah”.

Di samping itu ,Sebagai tokoh adat Minangkabau, beliau menulis beberapa buku yang berisikan tentang adat Minangkabau yang membahas tentang tatanan sosial kemasyarakatan Minangkabau, antara lain :

  1. Pedoman Hidup di Minangkabau
  2. Asal dan Pendirian Pangulu
  3. Pertalian Adat dan Syara’
  4. Pedoman Pangulu

Di bidang keagamaan, beliau mempunyai dinamika tentang ilmu akidah dengan mengonsep tatanan akidah yang benar bagi seluruh elemen masyarakat dengan menulis buku “al-Aqwalu al-Mardhiyah” perspektif “ahl al-sunnah wa al-jama’ah”. Di samping itu

Sementara itu, sebagai tokoh sosial dan politik, beliau mempunyai kiprah yang sangat vital dalam pergerakan pembangunan tatanan sosial masyarakat, hukum dan politik. Kiprah beliau ini tergambar dari aktifitas beliau di bidang sosial dan politik sebagai  berikut:

  • Berperan sebagai Ketua Sidang Konstituante pertama pada Pemilu tahun 1955 di Bandung
  • Penggagas berdirinya Mahkamah Syari’ah dan sekaligus terpilih sebagai Ketua di wilayah Sumatera Tengah. (1947)
  • Pencetus berdirinya Majelis Tinggi Islam Minangkabau (1944)
  • Pendiri Ittihad al-Ulama (1921-1928)
  • Pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (1928)

Pada masa menjelang akhir hayat beliau, Syekh Sulaiman Arrasuli telah menyampaikan pesan terakhir beliau selaku pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang. Pesan yang beliau sampaikan sangat singkat namun sarat dengan makna sesuai dengan khittah pendirian, yaitu “Teroeskan Membina Tarbijah Islamijah Ini Sesoeai dengan Peladjaran yang Koe Berikan”.

Pada tanggal 1 Agustus 1970, Syekh Sulaiman Arrasuli sebagai tokoh sentral Tarbiyah Islamiyah menutup usianya dan telah meninggalkan rasa kehilangan yang sangat mendalam, tidak saja bagi masyarakat Canduang Koto Laweh, tapi juga dirasakan oleh masyarakat Islam di seantero nusantara dan negara Jiran Malaysia.